Saturday, July 7, 2012

Toleransi Antar umat Beragama Tumbuhkan Perdamaian

Presiden Dewan Kepausan Patikan, Jean Louis Cardinal Tauran mengatakan, rasa toleransi yang dijalin antarumat beragama hendaknya harus mampu saling membina cinta kasih untuk perdamaian dunia.

"Tuhan menciptakan segala isi dunia, oleh karena itu yang kita bina adalah saling menanamkan cinta kasih. Jangan karena perbedaan agama dan kepercayaan lantas kita saling membenci," kata Jean Louis di Kuta, Bali, Sabtu.

Pada acara dialog antarumat beragama itu, ia mengatakan, masih banyak ditemukan konflik antarumat beragama, karena sejumlah pemeluk agama di dunia menganggap kepercayaannya yang dianut paling tinggi.

"Sesungguhnya anggapan itu adalah kekeliruan umat, padahal semua ajaran agama di dunia adalah terbaik dan mengajarkan umatnya hidup rukun berdampingan," katanya.
Namun demikian, kata dia, melalui kegiatan dialog antarumat diharapkan untuk saling bertukar pikiran, sehingga tokoh-tokoh agama itu juga memberikan informasi kepada umatnya untuk menjunjung tinggi toleransi dan cinta kasih agar terwujud perdamaian dunia.

"Kami berharap semua agama menumbuhkan cinta kasih antarsesama manusia, walau dalam keyakinan dan kepercayaan berbeda," kata Jean Louis disambut tepuk tangan.
Sebagai umat beragama yang menjunjung tinggi ajaran Tuhan Yang Maha Esa, kata dia, perlu diwaspadai tindakan-tindakan radikal seperti terorisme yang berkedok dibalik agama tertentu
.
"Padahal dalam ajaran agama tidak satupun menyebutkan bahwa dengan membunuh sesama akan mendapat surga. Orang yang berpaham seperti itu sudah menyimpang dari ajaran agamanya," kata Jean Louis menegaskan.

Sementara Ketua Forum Komunikasi Antarumat Beragama (FKUB) Provinsi Bali, IB Gede Wiyana mengatakan, di Indonesia khususnya di Bali hubungan antarumat beragama sudah berjalan selaras dengan mengedepankan toleransi beragama.

"Bali adalah mayoritas pemeluk Hindu, namun kami di sini dapat hidup berdampingan tanpa membedakan suku, ras dan agama (SARA). Karena Bangsa Indonesia adalah pluralis dengan semboyan ’Bhinneka Tunggal Ika’ atau berbeda-beda tetap satu," katanya.

Wiyana yang juga Ketua Yayasan Dwijendra Denpasar itu mengatakan, hubungan erat antarumat di Pulau Dewata telah terjalin sejak zaman kerajaan.

Hal itu dapat dibuktikan, dengan kedatangan umat Islam dari berbagai daerah seperti dari Jawa, Lombok dan Sulawesi disambut dengan damai bahkan dijadikan prajurit kerajaan. Begitu juga kehidupannya dijamin oleh pihak kerajaan tersebut.

"Itu terbukti Raja Pemecutan Badung, memberikan perhatian khusus kepada umat Islam pada zaman itu memberikan tanah untuk tempat tinggal dan mendirikan tempat ibadah," katanya.
Begitu juga raja-raja di Bali lainnya juga memberikan perlindungan terhadap kehidupan umat Islam terbukti ada perkampungan Islam, seperti Kampung Saren di Kabupaten Karangasem, Kampung Gelgel (Klungkung), Kampung Pegayaman (Buleleng) dan Kampung Loloan di Kabupaten Jembrana.

"Hingga kini hubungan kekerabatan pihak puri kerajaan dengan kampung Islam masih terjalin, seperti ketika ada upacara adat di puri maka umat Muslim melakukan gotong-royong," kata Wiyana.

Studi kasus :

Kita sebagai individu sosial hendaknya menghargai kepercayaan masing-masing individu lainnya, Tuhan menciptakan segala isi dunia, oleh karena itu yang kita harus saling menanamkan cinta kasih. Jangan karena perbedaan agama dan kepercayaan lantas kita saling membenci.

Sumber : kompas.com

No comments: